PEMBUATAN BRIKET ARANGDARI SERBUK GERGAJI
Pendahuluan
Pada awal perkembangannya, kayu adalah sumber bahan bakar yang paling banyak
dipakai karena mudah didapat dan sederhana penggunaannya. Namun dewasa ini
tekanan terhadap hutan sangatlah berat sehingga mengurangi persediaan kayu
sebagai bahan bakar. Untuk itu diperlukan alternatif penggantiannya, dan salah
satunya adalah pembuatan briket arang. Dalam upaya pemanfaatan limbah serbuk
gergaji, dimana serbuk gergaji merupakan bahan yang masih mengikat energi, oleh
karena itu rantai pelepasan energi dimaksud diperpanjang dengan cara
memanfaatkan serbuk gergaji sebagai bahan pembuatan briket arang.
Manfaat Briket Arang
Dengan penggunaan briket arang sebagai bahan bakar maka kita dapat menghemat
penggunaan kayu sebagai hasil utama dari hutan. Selain itu penggunaan briket
arang dapat menghemat pengeluaran biaya untuk membeli minyak tanah atau gas
elpiji.Dengan memanfaatkan serbuk gergaji sebagai bahan pembuatan briket arang
maka akan menningkatkan pemanfaatan limbah hasil hutan sekaligus mengurangi
pencemaran udara, karena selama ini serbuk gergaji kayu yang ada hanya dibakar
begitu saja.Manfaat lainnya adalah dapat meningkatkan pendapatan masyarakat
bila pembuatan briket arang ini dikelola dengan baik untuk selanutnya briket
arang dijual.Bahan pembuatan briket arang mudah didapatkan disekitar kita
berupa serbuk kayu gergajian.
Cara Pembuatan Briket Arang :
1. Peralatan
a.. Ayakan ukuran lolos 50 mesh dan 70 mesh
b.. Cetakan briket
c.. Oven.
2. Bahan
- Serbuk gergaji
- Tempurang kelapa
- Lem kanji
Proses pembuatan media tumbuh jamur adalah sebagai berikut :
- Pengarangan
Serbuk gergaji dan tempurung kelapa dibuat arang dengan pengarangan manual
(dibakar).
- Pengayakan
Pengayakan maksud untuk menghasilkan arang serbuk gergajian dan tempurung
kelapa yang lembut dan halus. Arang serbuk gergaji diayak dengan saringan
ukuran kelolosan 50 mesh dan arang tempurung kelapa dengan ukuran 70 mesh.
- Pencampuran media
Arang serbuk gergaji dan tempurung kelapa yang telah disaring selanjutnya
dicampur dengan perbandingan arang serbuk gergaji 90 % dan arang tempurung
kelapa 10 %. Pada saat pencampuran ditambah dengan lem kanji sebanyak 2,5 %
dari seluruh campuran arang serbuk gergaji dan tempurung kelapa.
Pencetakan Briket Arang
Setelah bahan-bahan tersebut dicampur secara merata, selanjutnya dimasukkan ke
dalam cetakan briket dan dikempa.
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
SAMPAH BISA JADI BRIKET
Jangan buang atau bakar daun yang berjatuhan! Sampah organik itu ternyata bisa
diolah menjadi briket atau bahan bakar padat untuk memasak. dengan demikian,
Anda tak perlu keluar uang atau pusing mencari minyak tanah atau gas.
Briket dari sampah dedaunan ini merupakan hasil penelitian usman (26), guru
SMAN 17 Palembang, Sumatra Selatan. Sarjana Biologi dari Universitas Sri-Wajaya
ini merupakan salah satu dari 10 peraih penghargaan dalam bidang pendidikan
sains. Usman memperoleh hadiah Rp 17,5 juta.
Ditemui usai penerimaan penghargaan di Ball Room Hotel, Sangrila Jakarta Pusat
Rabu (13/2), Usman menjelaskan, ide membuat briket dedaunan ini muncul tahun
2006. Gagasan itu terealisasi tahun 2007 dan dilombakan diajang Indonesia Toray
Science Foundation ( ITSF ) yang di gelar tiap tahun
Sebagai orang yang banyak menggeluti dunia Biologi, Usman teringat dengan batu
bara. Briket itu ternyata berbahan bakunya bisa dari mana saja. Saat itu juga
Usama langsung bereaksi dan meyakini bahwa sampah dedaunan bisa juga dijadikan
briket.
"Jadi buat masyarakat jika banyak sampah daun-daunan sebaiknya jangan dibuang
begitu saja. Jangan juga cuma dibuat pupuk kompos. Ternyata sampah dedaunan
bisa dibuat menjadi briket. Caranya sangat mudah dan hasil penelitian saya ini
bisa diadopsi masyarakat Jakarta, " tutur Usman.
Hasil penelitian Usman dinyatakan berhasil dan berguna buat banyak orang. Di
SMA 17 Palembang, program pengolahan sampah dedaunan menjadi sebuah briket
diajarkan kepada siswa. "Kami menjadi pilot project buat sekolah lain," katanya.
Sementara itu, Arif Kusmianto (40), asal Sidoarjo, Jawa Tengah, yang sekarang
mengajar di SMAN 1 Bulukumba, Sulawesi Selatan, mempersembahkan hasil karya
berupa bahna bakar nabati dari biji-bijian.
Menurut arif, biji rambutan, biji buah banci, biji buah gayam, dan biji kelor
bisa dijadikan bahan bakar nabati. Caranya dengan merendam biji-bijian dari
satu jenis buah itu dicampur alcohol selama 24 jam atau sehari penuh.
Rendaman harus ditutup rapat sehingga terjadi penguapan.
Selanjutnya dilakukan proses destilasi yang bertujuan untuk memisahkan
penguapan tadi yang kemudian dibakar. "Hasilnya memang sedikit, karena sebagian
berubah menjadi seperti minyak nabati yang bisa digunakan untuk bahan bakar
ataun lilin.
Cara buat briket sampah
1. Kumpulkan sampah daun di halaman rumah
2. Sampah dibakar bersama campuran lem kanji dan arang batok kelapa.
3. Lamanya pembakaran tergantung dari volume sampah daun.
4. Campuran sampah daun, lem kanji, dan batok kelapa jangan sampai jadi arang.
5. Hasil pembakaran dicetak ke dalam pipa paralon.
6. Cetakan itu dikeringkan 1-2 hari dan hasilnya siap untuk memasak. Biasanya
untuk tukang sate.
Sumber : - Warta Kota
http://selatan.jakarta.go.id/bangunpraja/index.php?option=com_content&task=view&id=89&Itemid=1+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
INOVASI KOMPOR SAMPAH
Sampah adalah benda tak berguna. Tapi, tahukah Anda, sampah bisa dijadikan
bahan bakar pengganti minyak?
Bahan bakar berbentuk briket itu pertama dikembangkan oleh kelompok aktivis
lingkungan hidup Nepal. Foundation for Sustainable Technologie (FoST) --nama
LSM itu-- melirik potensi yang terkandung dalam sampah yang menumpuk dan
mengotori jalan dan sungai di Kathmandu dan kota-kota lain di Nepal.
Lantas muncullah ide pembuatan briket sampah, meniru briket batu bara yang
lebih dulu dikenal masyarakat Nepal. Bedanya, residu dan asap briket batu bara
sangat mengotori udara, sedangkan briket sampah relatif lebih bersih. Tak
berasap, tak beresidu. Selain itu, cara memproduksi briket sampah itu terbilang
mudah.
Cara pembuatan briket
Sampah-sampah yang digunakan sebagai bahan mentah briket adalah sampah kertas,
bambu, serbuk gergaji, ampas tebu, daun, dan sampah organik lainnya.
Setelah dipilah, material tersebut dimasukkan ke sebuah tong berisi air yang
dipanaskan. Lalu sampah-sampah itu dihancurkan dan diaduk laiknya membuat bubur
kertas. Tak ada bahan kimia yang digunakan.
Kemudian bubur sampah tadi dicetak. Ada yang berbentuk cakram dengan lubang di
tengahnya, ada juga yang berbentuk tablet. Ukuran garis tengahnya 5 cm dengan
tebal 5 cm pula. Ada juga yang dicetak dengan genggaman tangan. Saat ini, FoST
mengembangkan 10 jenis briket sampah.
Cara menggunakan
Untuk pembakaran, FoST juga memperkenalkan kompor khusus yang disebut rocket
stove (kompor roket) berbentuk tabung dengan garis tengah sekitar 10 cm. Pada
bagian bawahnya dipasang kipas angin bertenaga baterai untuk membantu
pembakaran. Baterai yang digunakan, dua buah baterai 1,5 volt itu, yang tahan
untuk sebulan penuh. Cukup praktis.
Apa Indonesia bakal turut menggunakan teknologi tepat guna ini? Saya harap
begitu. Kita tunggu saja nanti.
Briket Limbah Menghilangkan Sampah
Berbicara mengenai sampah dan permasalahannya seakan-akan tidak ada habisnya.
Bahkan berbagai argumen dan solusi pemecahan masalah sampah sudah sering kali
kita dengar maupun baca dari berbagai media massa.
Kali ini, penulis tidak akan menyoroti sampah sebagai sumber permasalahan yang
menimbulkan polemik di masyarakat, tapi cenderung berasumsi sampah sebagai
sumber berkah.
Dari sekian banyak berita yang penulis baca, sebagian besar para penulis atau
"pakar" sampah menyodorkan berbagai pandangan alternatif pemecahan masalah
sampah hanya sebagai sebuah wacana yang belum terealisasi. Meskipun tidak
dimungkiri opini-opini tersebut secara keseluruhan bertujuan memberikan
kontribusi positif bagi pihak-pihak yang terkait dalam penanggulangan sampah.
Tetapi apa yang penulis utarakan dalam tulisan ini kiranya dapat dipandang
sebagai tindak konkret dalam penyelesaian masalah sampah.
Bagi penulis, sampah bukan objek yang perlu didakwa sebagai sumber masalah,
menjijikkan, sumber bencana, bau, polusi atau tetek-bengek lainnya. Alangkah
bijaksananya bila kita menyadari, sampah merupakan bagian realita hidup yang
harus dihadapi.
Hal yang perlu dikembangkan dalam setiap insani anggota masyarakat adalah
bagaimana caranya menjadikan sampah sebagai objek yang memberikan manfaat bagi
manusia dan lingkungannya?
Komposisi sampah
Bila melihat dari segi komposisi kandungan sampah, ternyata sampah memiliki
potensi luar biasa. Kandungan materi dan komposisi sampah terdiri dari sejumlah
mikroorganisme bermanfaat, bahan organik dan anorganik. Kedua elemen tersebut
telah terbukti memberikan manfaat cukup besar bagi peri kehidupan manusia.
Sampah anorganik seperti plastik, besi, atau bahan logam lainnya yang notabene
sulit terdemineralisasi mikroorganisme tanah, oleh sebagian masyarakat
dimanfaatkan sebagai bahan dasar daur ulang menjadi perabotan baru.
Sedangkan sampah organik, sudah sejak lama diolah sebagai pupuk kompos yang
digunakan dalam bidang hortikultura maupun oleurikultura (budi daya tanaman
hias). Selain itu, ada sebagian masyarakat yang memanfaatkan sebagai bahan
dasar pembuatan biogas melalui proses biokonversi energi, seperti yang telah
dilakukan beberapa peternak sapi perah di daerah Pangalengan.
Proses pembuatan biogas ini dengan bantuan mikroorganisme bakteri pembusuk
Clostridium butyrinum, Bacteroides, atau bakteri perut Escherechia coli, serta
bakteri penghasil gas metan yaitu Methanobacter dan Methanobacilus. Aktivitas
kedua bakteri terakhir itulah yang diperkirakan sebagai penyebab timbulnya
ledakan pada TPA Leuwigajah sebelum terjadi longsor. Gas metan merupakan gas
yang bersifat eksplosif bila bersentuhan dengan sumber energi panas.
Mikroorganisme pengurai sampah pada umumnya merupakan kelompok bakteri
heterotrof. Bakteri jenis ini memanfaatkan sampah-sampah organik atau sisa
makhluk hidup sebagai sumber energinya. Bakteri yang sering dijumpai dalam
sampah antara lain bakteri nitrit (Nitrosococcus), bakteri nitrat
(Nitrobacter), Clostridium, dan sebagainya.
Bakteri Clostridium merupakan mikroorganisme pembusuk utama, berperan dalam
menguraikan asam amino dalam protein makhluk hidup, baik dari sampah tumbuhan
maupun sampah hewan menjadi suatu senyawa amoniak.
Senyawa inilah yang menyebabkan timbulnya bau tidak sedap pada sampah. Jadi
bila kita melewati tempat sampah tidak perlu menggerutu kesal karena bau.
Ternyata bau sampah menjadi indikasi adanya "bala bantuan" pengolah sampah.
Bayangkan bila sampah tidak berbau, kita akan lebih dipusingkan lagi akibat
sampah-sampah tersebut akan tetap utuh.
Briket sampah organik
Mendengar kata briket, kita tentu teringat briket batu bara yang pernah
dikenalkan kepada masyarakat beberapa tahun lalu. Namun sayangnya, alternatif
bahan bakar minyak tanah ini mandeg di tengah jalan. Sampai sekarang pun
gaungnya tidak terdengar lagi.
Kemungkinan penyebabnya adalah kurangnya pihak terkait mensosialisasikan kepada
masyarakat secara intensif. Faktor penyebab lain, kemungkinan sikap defensif
atau pola sikap enggan masyarakat menerima briket batu bara yang disebabkan
faktor "kemanjaan" masyarakat yang sudah terbiasa dengan minyak tanah, karena
relatif mudah pemakaiannya.
Bila mencermati informasi dari para pakar peneliti sumber daya alam. Mereka
menyatakan, kandungan sumber minyak bumi di wilayah Indonesia diprediksikan
hanya mampu untuk mencukupi kebutuhan minyak dalam negeri sampai tahun 2010.
Jadi, sudah selayaknya semua pihak memikirkan alternatif bahan bakar lain yang
tidak hanya mengandalkan bahan dasar minyak.
Berdasarkan percobaan yang penulis terapkan pada siswa-siswa kelas VII SMP
Negeri 3 Rancaekek, Bandung, ternyata diperoleh beberapa informasi mengenai
keunggulan briket sampah dibandingkan penggunaan bahan bakar minyak tanah atau
kayu.
Pertama, cara pembuatan briket sampah ini relatif mudah, murah dan tidak
memakan waktu lama. Cara pembuatannya mudah, karena yang diperlukan hanya
sampah organik yang mudah ditemukan di sekitar kita. Bahan dasarnya dapat
berupa, kayu-kayu sisa, daun-daun kering, makanan sisa, kertas.
Bahan-bahan tersebut, pertama-tama dibakar sampai menjadi bentuk arang berwarna
hitam pekat. Agar tidak sampai menjadi abu, pada saat bara api merata ke
seluruh bagian bahan, segera disiram air secukupnya.
Langkah selanjutnya, arang tersebut ditumbuk dengan menggunakan alat penumbuk,
martil, batu, atau alat-alat berat lainnya sampai menjadi halus. Saat menumbuk
ditambahkan daun-daun tanaman segar yang memiliki sifat lunak dan cukup
kandungan air. Daun-daunan ini dapat diambil dari sisa-sisa sampah pasar atau
sayuran yang sudah terbuang, contohnya bayam, kangkung, sawi, daun pepaya atau
jenis-jenis sayuran lain. Hal tersebut sekaligus dapat menjadi solusi
pengurangan penumpukan sampah yang banyak kita jumpai di pasar-pasar.
Persentase komposisi bahan pembuatan briket organik adalah 80% sampah organik
kering dan 20% campuran daun segar. Jadi bila ingin mencoba membuatnya,
seandainya sampah organik yang digunakan seberat 800 gram, maka daun segar yang
ditambahkan sebanyak 200 gram. Atau kelipatan dari jumlah tersebut.
Setelah kedua bahan tersebut tercampur rata, kemudian adonan dicetak dengan
ukuran dan bentuk menurut selera pembuatnya. Briket yang telah dibuat
selanjutnya dijemur di bawah sinar matahari sampai kering.
Proses pengeringan bergantung kondisi cuaca. Pengeringan hanya memakan waktu
sehari bila matahari bersinar penuh. Sedangkan tanda-tanda briket sudah kering
atau belum mudah ditebak dengan cara meletakkan dan mengangkatnya di telapak
tangan.
Briket kering terasa lebih ringan dan jelaga di permukaan tidak terlalu
mengotori permukaan telapak tangan.
Nasi pulen
Sejumlah kelebihan penggunaan briket sampah organik adalah rasa dan aroma
masakan. Dari percobaan hasil pengolahan masakan yang menggunakan kompor minyak
tanah dan tungku briket sampah, diperoleh cita rasa berbeda. Nasi terasa lebih
pulen dan masakan lain lebih legit.
Berdasarkan hasil wawancara, 90% dari jumlah siswa dua kelas yang diuji coba
menyatakan, masakan dari bahan bakar briket lebih khas dibandingkan dengan
masakan dari bahan bakar minyak tanah yang kata mereka, "Bau asap!"
Kelebihan briket kedua adalah daya panas yang dihasilkan dari pembakaran briket
sampah tak kalah dibandingkan dengan bahan bakar minyak. Hasil percobaan
penulis, untuk memanaskan 1 liter air hanya memerlukan sekitar 300 gram briket
dalam waktu kurang lebih 12 menit (dengan catatan bara api sudah merata).
Di samping itu, briket sampah memiliki kemampuan penyebaran bara api yang baik,
tak mudah padam, dan tidak perlu mengeluarkan tenaga ekstra untuk pengipasan.
Tanpa dikipasi pun briket sampah organik mudah menyala dengan stabil.
Kelebihan ketiga adalah volume asap yang dikeluarkan briket sampah tidak
sebanyak yang dihasilkan kayu atau minyak tanah. Dan yang lebih utama,
kandungan karbon dioksida dan karbon monoksida sebagai hasil sampingan
pembakaran tidak sedahsyat kayu atau bahan bakar minyak tanah.
Indikasinya, terlihat dengan reaksi para siswa yang berada di sekitar tungku
briket tidak mengalami gejala sesak napas atau mata pedih akibat iritasi,
seperti halnya yang dikeluhkan para ibu rumah tangga yang memakai minyak tanah.
Berkurangnya asap yang diproduksi disebabkan karbon dioksida, karbon monoksida,
dan kandungan air yang tersimpan dalam bahan briket telah direduksi pada saat
proses pembakaran pertama (arang).
Kelebihan keempat adalah peralatan tungku yang digunakan untuk keperluan bahan
bakar briket relatif lebih murah dan lebih mudah dalam perawatannya. Jenis
tungku yang digunakan terbuat dari tanah liat yang dibentuk sedemikian rupa.
Jenis tungku ini sudah dikenal sejak lama dalam masyarakat tradisional
Indonesia.
Dari segi aroma, briket sampah tidak jauh berbeda dengan bau khas arang yang
dibakar. Bahkan masyarakat daerah tertentu, seperti masyarakat pedesaan lebih
menyukai menggunakan bahan bakar nonminyak dengan alasan perbedaan rasa dan
aroma.
Briket Sampah
Ujang Sulap Sampah Jadi Briket
KOPRAL Kepala (Kopka) Ujang Solichin boleh dibilang prajurit rancage (kreatif). Di sela-sela kesibukannya sebagai prajurit TNI ia mampu memanfaatkan waktunya dengan gagasan yang penuh inovatif.
Salah satu diantaranya dengan membuat arang briket berbahan baku sampah. Sampah apa saja, terutama sampah organik kering seperti daun-daun, rumput, serpihan kayu, bongol kayu, serbuk gergaji, kertas dan segala macam sampah yang bisa dibakar jadi arang dan abu. Di tangan bapak empat anak ini, arang dan abu hasil pembakaran sampah tadi dicetak jadi briket arang setelah dipress dengan mesin khusus rancangan sendiri.
Briket arang kemudian dijadikan bahan bakar kompor dengan nyala apinya tak kalah dengan nyala api kompor gas. Satu kilo arang briket buatan Ujang Solichin yang dijual seharga Rp 1.600 itu, setara dengan kekuatan 1 liter minyak tanah yang HETnya Rp 2.235/liter.
Usaha briket arang ini sudah dirintis Ujang sejak bulan Juli 2005 lalu, hanya beberapa hari setelah masyarakat Indonesia diguncang kebijakan kenaikan bahan bakar minyak (BBM) pada bulan April 2005. Saat itu harga minyak tanah melambung dari Rp 900/liter sampai jadi Rp 2.235/liter di tingkat masyarakat umum.
Dengan ide awal untuk mencari energi alternatif, Ujang kini sudah menjadi ‘jendral’ di bidang usaha pembuatan briket arang. Dan penduduk Lingkungan Pasir Angin RT 06 RW 06 Kelurahan Kertasari ini punya markas khusus di jalan raya Ciamis-Banjar Nomor Km 7 (CMS) No 341 Desa/Kecamatan Cijeungjing. Markas yang dikontraknya Rp 10 juta per tahun tersebut sekaligus merupakan kantor APABRIC (Asosiasi Pengusaha Arang Briket Ciamis) yang ketuanya Ujang Solichin sendiri.
Sebagai prajurit TNI yang suka keluyuran dari kampung ke kampung, Ujang mengaku merasakan sekali kesulitan warga akibat kenaikan BBM. Sebagai orang yang pernah mengenyam pendidikan di sekolah teknis, Ujang yang tamat dari STM Dr Sutomo Cilacap tahun 1987 ini merasa mendapat ide saat menyaksikan buruh-buruh penggergajian kayu memanfaatkan serbuk gergaji untuk bahan tungku saat memasak air maupun nasi liwet.
Serbuk gergaji tersebut dipadatkan dibakar dalam tungku khusus, apinya biru menyala. Saya pikir kenapa serbuk gergaji tersebut tidak dibikin briket arang saja. Saya mulai mengutak-atik di lantai II rumah saya di Pasir Angin. Akhirnya terciptalah briket arang seperti sekarang, bahan bakunya tidak hanya serbuk gergaji, tetapi dari bermacam-macam sampah,’ tutur Ujang Solichin kepada Tribun Senin (18/9).
Briket arang berbahan baku sampah buatan Ujang ini tidak menimbulkan perih asap dan tidak menyisakan limbah beracun B2 seperti halnya briket batu bara. Briket arang buatan Ujang ini bisa digunakan untuk memasak dengan memakai kompor khusus, dan juga bisa digunakan untuk bahan arang pembakar sate ‘Niat saya sekarang memproduksi briket arang ini bukan untuk menyaingi minyak tanah. Terlebih adalah untuk memanfaatkan sampah yang sekarang menumpuk di TPA Handapherang dan TPA Ciminyak. Ada 40 KK pemulung yang sudah siap dibina untuk menjadi produsen arang dari timbunan sampah di kedua TPA tersebut. Bagaimana pun juga sampah kota, kini menjadi persoalan serius, ingat saja kejadian TPA Leuwigajah atau musibah longsor TPA Bantargebang baru lalu,’ imbuhnya.
Menurut Ujang, tumpukan sampah kota yang dibuang ke TPA tersebut sebenarnya bisa digunakan dan bermanfaat. Salah satu diantaranya dibakar jadi arang dan arangnya kemudian jadi briket.
Dengan bahan baku serbuk gergaji, arang batok, limbah tapas kelapa kini Ujang memproduksi arang briket 1-2 kuintal per hari dengan mempekerjakan sembilan pemuda pengangguran dan putus sekolah.
Tiap orang diberi upah secara borongan Rp 300/kg briket. Seorang pekerja mampu mendapatkan upah Rp 15.000/hari, tergantung produktivitasnya,’ ujar Ujang yang melakoni usaha briket arangnya ini setelah meminjam uang dari BRI sebesar Rp 31 juta untuk membeli dan membuat berbagai mesin.
Bila usahanya berkembang, menurut Ujang, pihaknya akan bekerja sama dengan sejumlah SLB yang ada di Ciamis, merekrut pemuda cacat untuk jadi pekerja pembuatan arang briket. ‘Yang penting yang bersangkutan bisa melihat akan kami terima. Pemuda cacat kan susah masuk kerja dimana pun,’ ujarnya.
Ujang sendiri sekarang mengaku pusing karena pesanan briket arang terus mengalir. Misalnya dari Pabrik Peleburan Tima Aki di Leuwigajah sebanyak 10 ton perminggu. Dan dari Perkebunan Teh di Bandung selatan sebanyak 50 ton per bulan.
Sementara kami hanya mampu memproduksi briket arang 7 kuintal sampai 1 ton seminggu. Untuk saja mereka mau menampung berapa pun adanya,’ ujar Ujang yang berniat segera menyerahkan usaha arang briketnya kepada yang lebih professional.
Saya tentu tetap mengutamakan tugas saya sebagai prajurit. Usaha briket arang akan serahkan kepada yang lebih professional. Saya sekarang, hanya punya keinginan untuk mempaten hak cipta briket arang ini. Cuma biayanya cukup besar, katanya sampai Rp 10 juta,’ tutur Ujang yang setelah tamat STM Dr Sutomo Cilacap tahun 1987 lalu langsung membuat PLTA mini di Curug Panganten Desa Kepel, Cisaga sehingga mampu menerangi dua desa. Tapi PLTA minihidro yang dikelola Ujang ini tersingkir setelah listrik PLN masuk desa tersebut pada tahun 1992. Ujang sendiri memilih masuk jadi prajurit TNI yang kini berdinas di Ciamis.
Dari tumpukan sampah masih banyak yang mungkin bisa digunakan. Seperti untuk membuat pavingblock, eternity, keramik, batako dan segala macamnya. Tinggal sekarang bagaimana memilah-milah sampah yang mungkin digunakan,’ ujar Ujang tentang idenya yang masih belum terlaksana dalam pemanfaatan tumpukan sampah di TPA Handapherang
Sumber : google.com